Pages

Friday, 28 January 2011

free for infant, tapi pake eyel-eyelan


awal desember lalu baby bindi jalan-jalan ke trans studio makassar. meski belum banyak wahana yang baby friendly, tapi lumayanlah..bindi bisa liat aneka permainan dan juga jalan-jalan di theme park studio yang luas dan adem.

oh ya, saat mau beli tiket, saya sempet nanya ke petugas, apakah bayi juga harus bayar tiket. lalu petugas tiket menyuruh saya nanya ke petugas pemeriksa tiket yg berjaga di gate, pintu masuk. "harus bayar full," katanya. bayi yang berumur 4 bulan ke atas harus bayar seperti orang dewasa. saya kaget, masa bayi belum bisa jalan dan tidak mungkin menikmati semua wahana yang disediakan juga harus bayar full? yang bener aja. di luar negeri biasanya free for infant, 50% for kids, dan full payment for adult.

lalu saya bertanya pada petugas di ticket booth lagi, "yang bener aja mbak, masa bayi bayar full?" lalu mereka bingung sendiri. saya di suruh nunggu beberapa saat. si mbak itu bolak-balik menghubungi orang-orang yang dianggap bisa membuat keputusan.
setelah sekian lama menunggu, barulah si mbak bilang bahwa bayi gak perlu bayar. saya pun melenggang dengan senang menuju pintu masuk. "sudah ada tiket untuk bayinya?" tanya petugas pintu masuk. saya terkaget. "lho, tadi dibilang free tuh?" si mbak petugas menggeleng, "harus punya tiket sendiri," katanya maksa. saya jadi sebel, "oke, mbak ke sana aja, tanya ke petugas di ticket booth ya," males dong kalo saya disuruh bolak-balik.

finally sih, dapet free for infant. tapi pake nunggu lama dan pegel. hiks..!

Friday, 14 January 2011

Baby Bindi on Magazine (Maj. Sekar, 12 Jan 2011)


Kebanggaan seorang Ibu yang berprofesi sebagai penulis adalah, ketika anaknya nongol di media. Hehe...! Karena Baby Bindi belum bisa baca dan nulis, sementara enggak apa deh diwakili emaknya dulu.

Ceritanya, bulan November 2010 lalu saya diwawancarai Mbak Tassia dari Maj. Sekar (Gramedia Majalah). Wawancara by phone Jakarta - Jogja. Lumayan lama juga wawancaranya, soalnya sempet diselingi break karena batuk-batuk dulu. Hiks..!

Tema wawancaranya seputar "traveling with baby". Buat saya, yang doyan traveling, ngajakin Baby Bindi jalan-jalan itu merupakan bagian dari proses belajar mengenal alam dan budaya lain. Sebisa mungkin saya berusaha mengajak Bindi traveling yang saya dedikasikan untuk dirinya, bukan untuk kepentingan orang tuanya.

Karena itu, saya lebih suka mengajak Bindi traveling ke tempat-tempat yang saya sudah sering mengunjunginya. Misalnya ke Ubud, Bali. Saya kan udah lumayan fasih daerah itu, jadi saya nggak tergoda pengin melihat macem-macem. Dengan begitu, saya bisa optimal memperkenalkan Bindi pada alam dan budaya lain: jalan-jalan ke sawah, ngliat enabuh gamelan bali, main sama bule-bule kecil, dll.

Ada kalanya, saya terpaksa mengajak Baby Bindi bepergian jauh untuk urusan keluarga. Nah, ini yang rada-rada bikin repot karena nggak bisa sepenuhnya rekreasi. Misalnya saat kami ke Makassar bulan Desember 2010 lalu. Kami ke sana dalam rangka kawinan sodara.

Sebenarnya, kami sudah disiapin kamar di hotel yang nggak jauh dari famili yang punya gawe itu. Tapi demi kenyamanan Baby Bindi, saya memilih bayar hotel sendiri di dekat Pantai Losari, yang jadi agak jauh dari rumah famili. Alasannya sederhana aja sih, kalau saya nginep di dekat rumah famili, pasti mau nggak mau harus menghadiri prosesi pernikahan adat Bugis yang sudah berlangsung selama 3 hari berturut-turut sebelum malam resepsi. Duh, enggak kebayang, capeknya bawa Bindi ke sana. Walaupun, sejujurnya, saya sangat amat ingin mendokumentasikan prosesi perkawinan Bugis secara lengkap. Mana famili saya itu keturuan bangsawan bugis pula kan. Tapi kalau saya maksain keinginan saya, kasian Baby Bindi-nya.

Jadilah saya pilih hotel menjauh, supaya ada waktu lebih longgar untuk berekreasi. Bindi bisa berperahu ke Pulau, bisa main ke Trans Studio, bisa jalan-jalan menyusur pantai, juga masih bisa menghadiri salah satu prosesi adat Mapacci pada malam sebelum ijab.

Nah...kembali ke majalah Sekar edisi 12 Januari 2011..edisi Baby Bindi...semoga akan segera disusul dengan buku yang saya susun "Traveling with Baby". Doain yaa....!

Friday, 10 December 2010

experience boat cruise


Salah satu tujuan saya mengajak Baby bindi traveling adalah untuk mengenalkan dengan berbagai alat transportasi. Saat jalan-jalan ke Makassar, kami mengajak Baby bindi naik perahu. Nggak jauh-jauh kok, cuma dari dermaga Pantai Losari ke Pulau kahyangan yang ditempuh sekitar 15 menit sekali jalan. Penginnya sih sekalian ke Samalona, biar bisa main air, tapi karena Samalona relatif lebih jauh (30-45 menit), sementara ini adalah pengalamana bindi berperahu, maka saya memilih untuk mengurungkan hasrat. Gak apa yang deket dulu, nanti kalau bindi sudah ketahuan enjoy, bolehlah dicoba lagi berperahu yang lebih jauh.

Ternyata Bindi enjoy banget di atas perahu. Dia takjub melihat hamparan air yang begitu luasnya. Juga kegirangan melihat percikan air laut di sisi kanan kiri perahu. Tangannya menunjuk ke segala arah sambil berkata-kata yang kemudian saya terjemahkan sendiri, "ooww..itu ada kapal besar" atau "ada ikannya nggak ya" atau "lautnya luas ya, bu..."

Sampai di Pulau Kahyangan, Baby Bindi cuma main-main pasir sebentar. Sebenarnya sih dia masih betah berlama-lama, tapi saya yang nggak betah. Pagi itu, saat kami berperahu ke Pulau Kahyangan, sebenarnya tidak dengan persiapan. Iseng-iseng aja nyuapin sarapan pagi Bindi di tepi pantai Losari, lalu pas mau balik ke hotel kami nyari warung coto. Lagi bengong di pinggir jalan yang tak jauh dari dermaga, eh ditawarin tukang perahu. "Gimana, sekalian aja yuk?" tanya saya pada Edo yang langsung disetujui. Jadilah kami yang belum mandi ini berperahu ke pulau Kahyangan.

Oh ya Pulau Kahyangan adalah salah satu pulau kecil yang sering dijadikan tempat untuk menggelar berbagai event. Di pulau kecil ini dibangun sejumlah cottage dan bungalow yang pintunya langsung menghadap ke laut. Juga terdaapt play ground dan panggung hiburan. Katanya, pulau ini jadi tempat yang asyik untuk menikmati lampu-lampu kota Makassar di malah hari.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi pulau yang pagi itu tampak sepi (apakah penghuninya masih pada tidur di cottage ya?), akhirnya kami kembali ke perahu. Di atas perahu yang membawa kami kembali, Baby Bindi tertidur, diterpa semilir angin pagi yang sejuk dan bikin mengantuk.